|

Konsep Umum Heat Rate Analysis

Heat Rate merupakan parameter yang umum digunakan untuk menilai efisiensi sebuah pembangkit. Heat Rate menunjukkan jumlah kalori/panas yang dibutuhkan untuk menghasilkan per kWh listrik dari generator. Semakin besar nilai Heat Rate maka semakin buruk efisiensi pembangkit, namun semakin kecil nilai Heat Rate maka akan semakin efisien pembangkit tersebut.

Berdasarkan patokan Output yang digunakan sebagai dasar perhitungan, perumusan Heat rate dibagi menjadi dua macam, yaitu :

1. Netto Heat Rate : yaitu perhitungan Heat rate dengan menggunakan data kWh Netto dari Output generator. Yang dimaksud kWh Netto adalah jumlah dari travo generator setelah dikurangi pemakaian sendiri.

2. Gross Heat Rate : yaitu perhitungan Heat rate dengan menggunakan data Gross Generator Output (GGO). Yang dimaksud GGO adalah jumlah total output kWh dari travo generator. [1]

Untuk melihat perkembangan kondisi efisiensi unit, berdasarkan EPRI “Heat Rate Improvement Reference Manual” maka perlu dibandingkan antara Heat Rate Reference dengan kondisi Heat rate unit saat ini. Semakin besar gap yang dihasilkan berarti semakin besar pula degradasi efisiensi dari pembangkit tersebut. Heat rate refrence menggunakan dua sumber data sebagai berikut :

1. As Bulit Heat Rate : yaitu data‐data heat rate dari Commisioning test atau Best Performance test setelah rehabilitasi. Data ini digunakan sebagai sumber data utama untuk reference data

2. As Design Heat Rate : yaitu data‐data heat rate dari Design Power Plan Document. Data ini digunakan jika terdapat data yang tidak ditemukan pada data As Built Heat rate

Saat melakukan analisa kontribusi tiap equipment dalam kenaikan Heat Rate maka perlu dipetakan besarnya sumbangan kenaikan Heat Rate tiap equipment. Untuk memetakanya maka dibuatlah Heat Rate Waterfall Diagram yang digunakan sebagai dasar untuk melakukan Heat Rate Gap Analysis seperti yang ditampilkan pada gambar 1 berikut.

HR Waterfall

Gambar 1. Heat Rate Waterfall Diagram

Setelah itu diambil beberapa contributor terbesar naiknya Heat rate, kemudian dilakukan analisa Root Caused‐nya dengan menggunakan rujukan Heat Rate Logic Tree dari buku EPRI “Heat Rate Improvement Reference Manual”. Dari Root Caused tersebut kemudian dilakukan penyusunan tidak lanjut (Action Plant/idea generation). Tindak lanjut yang dilakukan bisa berupa : perubahan Prosedure/insruksi kerja, atau strategi dalam manuver operasi dan program pemeliharaan. [2]

Dengan melakukan Heat Rate Gap Analysis diharapkan akan terjadi perbaikan heat rate yang signifikan pada power plant. Sebab program‐program yang dilaksanakan bisa lebih tepat sasaran, sehingga akan membawa hasil yang lebih optimal.

Refrensi :

[1] Panduan Heat Rate Analysis OPI PT PJB

[2] Heat Rate Improvement Reference Manual TR-109546

Similar Posts

  • Secara umum, istilah drying digunakan untuk proses penghilangan moisture secara thermal dimana proses pengeringan pada solid terbagi menjadi tiga periode yaitu: warming up period, constant period dan falling period (Perry, 1997). Gambar 1 dan 2 menunjukkan kurva moisture content dan drying rate sebagai fungsi waktu. Garis AB menunjukkan warming up period saat terjadi proses pemanasan…

  • |

    Spesific Fuel Consumption

    Specific fuel consumption adalah rasio perbandingan total konsumsi bahan bakar terhadap daya listrik yang dibangkitkan dalam sebuah industri pembangkitan listrik, biasanya digunakan sebagai salah satu cara untuk mengetahui seberapa efisien sebuah pembangkit listrik dan untuk memprediksi nilai kalor bahan bakar yang digunakan untuk pembakaran. Pengukuran SFC sebaiknya dilakukan pada beban yang tetap selama minimum dua…

  • |

    Analisa Batubara

    Analisa batubara merupakan proses yang sangat penting dalam sebuah industri pembangkitan listrik, dimana proses ini bertujuan untuk mencocokkan dokumen kontrak batu bara yang berasal dari mitra apakah telah sesuai ataukah tidak, dan juga sebagai input data untuk menghitung heat rate atau efisiensi dari sebuah pembangkitan listrik. Batubara adalah senyawa hidrokarbon yang terdiri dari unsur-unsur yang…

  • Prinsip Dasar Konservasi Boiler

    Konservasi boiler secara umum dapat didefinisikan sebagai upaya untuk melindungi permukaan material pipa boiler (water side dan steam side) serta main drum dari terjadinya korosi ketika boiler dalam keadaan tidak beroperasi (idle), istilah lain dari konservasi boiler adalah boiler lay-up. Korosi pipa terjadi yaitu pada saat dilakukan boiler drain sebagian air akan terperangkap dan menempel…

  • Tips Cara Membaca Diagram Mollier

    Mungkin sebagian diantara kita ada yang belum tahu atau lupa-lupa ingat ketika membaca Diagram Mollier. Untuk itu dalam artikel kali ini penulis akan membahas bagaimana cara untuk menentukan work output atau power output dari sebuah turbin uap dengan menggunakan Diagram Mollier. Untuk memudahkan alur pembahasan, maka beberapa hal yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah…

  • Turbine Heat Rate (THR)

    Performance dari sebuah turbine dapat diidentifikasi dari nilai turbine heat rate, yang diterjemahkan sebagai banyaknya kilo kalori energi yang dikonsumsi per kWh energi listrik saat dibangkitkan. Untuk menghitung turbine heat rate dapat menggunakan beberapa cara yaitu diantaranya dengan terlebih dahulu memahami teori heat balance (kesetimbangan panas) atau dengan kata lain energi apa saja yang keluar…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 9   +   9   =