|

Hubungan Antara Tekanan Dan Massa Aliran Uap Pada Turbin Bertingkat

Variasi massa alir uap mempengaruhi distribusi penurunan kalor, demikian juga dengan tekanan yang terdapat pada tingkat-tingkat turbin. Flugel secara analitis telah membuat suatu hubungan antara massa alir uap dan tekanan pada turbin bertingkat untuk kecepatan uap yang lebih rendah daripada kecepatan kritis pada sisi keluar nosel, dengan persamaan :

D/Do = √(To/T) √((p12 – p22)/(p102 – p202 ))                                  (1-1)

Dimana,

Do dan D      : Massa aliran uap melalui turbine yang bersesuaian dengan kondisi desain dan beban yang diteliti.

To dan T       : Temperatur dalam derajat mutlak (oC) pada beban desain yang ada

p10 dan p1    : Tekanan uap sebelum nosel tingkat pertama atau lainnya untuk beban yang didesain dan beban yang sedang diditeliti.

p10 dan p20  : Tekanan uap sesudah sudu-sudu gerak tingkat akhir atau tingkat lainnya yang bersesuaian dengan beban desain dan beban yang diteliti.

Perbandingan √(To/T) biasanya mendekati satu sehingga persamaan di atas dapat disederhanakan sebagai berikut,

D/Do = √((p12 – p22)/(p102 – p202 ))                                  (1-2)

Untuk turbin yang beroperasi dengan kevakuman yang tinggi, nilai p20 dan p2 dapat diabaikan sehingga untuk turbin kondensasi dapat dituliskan,

D/Do = p1 /p10                           (1-3a)

atau

p1 =(D/Do ) x p10                        (1-3b)

Sehingga dari persamaan (1-3b) menunjukkan bahwa untuk turbin kondensasi, tekana uap uap untuk nosel di berbagai tingkat adalah fungsi garis lurus massa alir uap. Persamaan (1-3b) dapat digunakan untuk menentukan tekanan uap pada berbagai turbin, tanpa memperhatikan apakah aliran uap adalah dalam keadaan subcritical, ataupun supercritical. Persamaan (1-1), (1-2) dan (1-3b) dapat dipakai dengan ketelitian yang cukup untuk turbin yang tidak lebih dari tiga stage. Namun perlu diperhatikan bahwa persamaan-persamaan di atas dapat dipakai hanya bila luasan aliran uap untuk semua tingkat yang diteliti adalah tetap dan tidak berubah.

Sumber : Assessment Of The Effect Of The Operation Of Power Units On Sliding Pressure, Gerrad Kosman

Similar Posts

  • Proses Pembakaran Batubara

    Pembakaran pada bahan bakar batubara merupakan proses pelepasan energi panas yang dihasilkan dari reaksi combustible material dengan oksida (oksigen dalam udara). Tujuan utama dari proses pembakaran adalah memaksimalkan pelepasan energi dengan meminimalkan kerugian-kerugian yang mungkin timbul selama proses pembakaran. Faktor utama yang mempengaruhi proses pembakaran antara lain :

  • |

    Prinsip Dasar Konservasi Boiler

    Konservasi boiler secara umum dapat didefinisikan sebagai upaya untuk melindungi permukaan material pipa boiler (water side dan steam side) serta main drum dari terjadinya korosi ketika boiler dalam keadaan tidak beroperasi (idle), istilah lain dari konservasi boiler adalah boiler lay-up. Korosi pipa terjadi yaitu pada saat dilakukan boiler drain sebagian air akan terperangkap dan menempel…

  • |

    Analisa Batubara

    Analisa batubara merupakan proses yang sangat penting dalam sebuah industri pembangkitan listrik, dimana proses ini bertujuan untuk mencocokkan dokumen kontrak batu bara yang berasal dari mitra apakah telah sesuai ataukah tidak, dan juga sebagai input data untuk menghitung heat rate atau efisiensi dari sebuah pembangkitan listrik. Batubara adalah senyawa hidrokarbon yang terdiri dari unsur-unsur yang…

  • |

    Efisiensi Energi dan Lingkungan

    Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara adalah jenis pembangkit listrik yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar untuk menghasilkan listrik. Meskipun PLTU batubara dapat menyediakan sumber energi yang andal dan stabil, namun penggunaannya dapat berdampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan hubungan antara efisiensi energi di PLTU batubara dan dampaknya terhadap lingkungan. Efisiensi…

  • Secara umum, istilah drying digunakan untuk proses penghilangan moisture secara thermal dimana proses pengeringan pada solid terbagi menjadi tiga periode yaitu: warming up period, constant period dan falling period (Perry, 1997). Gambar 1 dan 2 menunjukkan kurva moisture content dan drying rate sebagai fungsi waktu. Garis AB menunjukkan warming up period saat terjadi proses pemanasan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 0   +   10   =