Bilangan-Bilangan Tak Berdemensi

Untuk menghitung perpindahan panas secara konveksi dibutuhkan rumus-rumus atau persamaan-persamaan yang tidak berdemensi, antara lain sebagai berikut :

1. Bilangan Reynolds

Dari hasil percobaan-percobaan yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa aliran laminer atau turbulent tergantung dari :
– Diameter pipa = d (m)
– Viscositas = η (kg/m det)
– Berat jenis fluida (density) = (kg/m3)
– Kecepatan rata-rata fluida = ω

Yang dirumuskan dalam persamaan sebagai berikut :

Re = (∂ . ω . d)/η (dimana Re = Bilangan Reynold dan tanpa dimensi)

Dari percobaan-percobaan selanjutnya Reynold menyimpulkan bahwa :
Aliran laminer terjadi bila bilangan Reynold ( Re ) lebih kecil dari 2200
Aliran transisi terjadi bila bilangan Reynold ( Re ) adalah = 2200
Aliran turbulent terjadi bila bilangan Reynold ( Re ) lebih besar dari 2200
Untuk selanjunya dalam perhitungan perpindahan panas konveksi hanya dipakai 2 aliran yaitu :
Aliran laminer dengan Re < 2200
Aliran turbulent denagn Re >> 2200

2. Bilangan Nusselt

Bilangan yang tidak berdemensi kedua adalah Nusselt, yang menunjukkan proses perpindahan panas pada dinding pipa atau pada lapisan batas (boundary layer).
Dalam bentuk persamaan ditulis :

Nu = (α . d)/λ

Dimana :
α = Koefisien perpindahan panas konveksi (kcal/m jam °C)
d = Diameter pipa (m)
λ = Koefisien perpindahan panas konduksi (kcal/m jam °C)
Nu = Bilangan Nusselt (tanpa dimensi)

3. Bilangan Prandtl

Bilangan yang tidak berdemensi ketiga adalah Prandtl, dalam bentuk persamaan ditulis :

Pr = Pe/Re = v/a = η.Cp/λ

Dimana :
Pr = Bilangan Prandtl (tanpa dimensi)
Pe = Bilangan Peclet (tanpa dimensi)
Re = Bilangan Reynolds (tanpa dimensi)
ν = Viskositas kinematis (m2/jam)
a = Penyerapan panas / thermal diffusivity (m2/jam)
η = viskositas dinamis (kg/m jam)
Cp = Panas spesifik (kcal/kg°C)
λ = koef perpindahan panas konduksi (kcal/m jam °C)

4. Bilangan Fourier

Bilangan yang tidak berdemensi keempat adalah fourier, bilangan ini menunjukkan perpindahan panas yang tidak stabil atau tidak dalam  keadaan steady-state, dalam bentuk persamaan ditulis :

Fo = (a.T)/D2

dimana :
Fo = Bilangan Fourier (tanpa dimensi)
a = Penyerapan panas (m2/jam)
T = waktu (jam)
d = diameter (m)

5. Bilangan Grashof

Bilangan Grashof menunjukkan gaya angkat (buoyant) yang terjadi pada zat cair, gaya angkat yang terjadi ini disebabkan oleh perbedaan berat jenis sehingga terjadi konveksi secara alam (free convection), dalam bentuk persamaan ditulis :

Gr = [(β . g . d3)/v2] . ∆ t

Dimana :
Gr = Bilangan Grashof (tanpa dimensi)
β = Koefisien pemuaian zat cair (1/°C)
g = Percepatan gravitasi (m/jam2)
d = Diameter pipa (m)
∆ t = Perbedaan temperatur (°C)
ν = Viskositas kinematis (m2/jam)

6. Bilangan Peclet

Bilangan peclet menyatakan hubungan antara jumlah perpindahan panas yang disebabkan oleh konveksi dan jumlah perpindahan panas yang disebabkan oleh konduksi, yang ditulis dalam persamaan sebagai berikut :

Pe = (ω . d)/a = (ω . d)/v = v/a = Re x Pr

Dimana :
Pe = Bilangan Peclet (tanpa dimensi)
ω = Kecepatan rata-rata fluida (m/s)
a = Penyerapan panas / thermal diffusivity (m/jam)
d = Diameter pipa (m)
ν = Viskositas kinematis (m/jam)
Re = Bilangan Reynolds (tanpa dimensi)
Pr = bilangan Prandtl (tanpa dimensi)

Tujuan dari percobaan-percobaan yang dilakukan oleh para ahli adalah untuk mendapatkan  koefisien perpindahan panas konveksi, sehingga dapat diaplikasikan untuk merencanakan (mendesign) alat-alat perpindahan panas seperti  boiler,  heat exchanger (alat penukar kalor) dan lain-lainnya.

Koefisien perpindahan panas konveksi dipengaruhi oleh :
1. Sifat-sifat fluida, seperti : Viskositas, berat jenis, daya hantar konduksi, panas jenis dll.
2. Kecepatan aliran fluida : Koefisien perpindahan panas konveksi akan naik dengan bertambahnya kecepatan aliran.
3. Keadaan fluida : Laminer dan turbulent
4. Bentuk permukaan metal yang berhubungan dengan fluida
5. kekasaran ( Roughness ) dari permukaan logam.

Persamaan-persamaan yang dipergunakan untuk menghitung perpindahan panas konduksi adalah :
Nu = f (Fo, Re, Pe, Gr)
Nu = f (Fo, Re, Gr, Pr)

Persamaan tersebut diatas dapat disederhanakan pada kondisi :

a. Aliran tetap (steady-state flow).

Dalam hal aliran tetap maka bilangan Fourier (Fo)  konstant sehingga dapat dihilangkan, jadi persamaannya menjadi :
Nu = f (Re, Pe, Gr)
Nu = f (Re, Gr, Pr)

b. Aliran paksa turbulent tetap (steady-state forced turbulent flow).

Dalam hal ini pengaruh konveksi alam diabaikan sehingga bilangan Grashof (Gr) dapat dihilangkan maka persamannya menjadi :
Nu = f (Re, Pr)

c. Aliran bebas/aliran alam (free flow).

Untuk aliran alam pengaruh bilangan Reynolds  (Re) dapat dihilangkan, sehingga persamaannya menjadi :
Nu = f (Gr, Pr)

d. Gas-gas yang mempunyai valensi sama.

Untuk gas-gas yang mempunyai valensi sama, dimana bilangan Prandtl (Pr) sama dan konstant jadi dapat diabaikan sehingga persamaannya menjadi :
Nu = f (Re)
Nu = f (Gr)

@Pangsor Tangsi

Similar Posts

  • |

    Analisa Batubara

    Analisa batubara merupakan proses yang sangat penting dalam sebuah industri pembangkitan listrik, dimana proses ini bertujuan untuk mencocokkan dokumen kontrak batu bara yang berasal dari mitra apakah telah sesuai ataukah tidak, dan juga sebagai input data untuk menghitung heat rate atau efisiensi dari sebuah pembangkitan listrik. Batubara adalah senyawa hidrokarbon yang terdiri dari unsur-unsur yang…

  • Aplikasi Diagram Mollier (bagian 1)

    Berikut adalah sebuah contoh soal yang semoga bisa memudahkan pemahaman para pembaca untuk mengerti aplikasi dari diagram mollier. Diketaui dalam kondisi yang ideal sebuah turbin uap mempunyai laju power output sebesar 30.000 kW dan laju aliran massa sebesar 26,4 kg/s. Uap buang (steam exhaust) menuju kondensor sebesar 0,12 bar pada tekanan absolut dan memiliki kandungan…

  • Penjelasan Singkat Dari Istilah Dalam Maintenance

    Maintenace mempunyai banyak sekali istilah yang masing – masing mempunyai penjelasan dimana jika dituangkan dalam suatu buku akan memenuhi subbab pada buku tersebut. Maka artikel ini akan menjelaskan secara super singkat istilah yang terdapat dalam sistem maintenace. Istilah – istilah disini juga sering dipakai di industri – industri yang mengaplikasikan sistem maintenance ini. Berikut istilah…

  • |

    Jenis-Jenis Boiler

    Boiler atau dikenal dengan Ketel Uap, adalah suatu peralatan atau sistem yang bertujuan untuk merubah air menjadi uap dan dapat digunakan sebagai penggerak atau untuk keperluan industri. Boiler merupakan suatu bejana tertutup, dimana kalor dari pembakaran bahan bakar dipindahkan ke air melalui ruang bakar dan bidang bidang pemanas. Boiler uap pertama kali ditemukan pada abad…

  • Penyebab Terjadinya Vibrasi

    Vibrasi atau getaran yang ditimbulkan oleh peralatan yang berputar semisal motor, pompa, fan dan sejenisnya akan memberikan petunjuk tentang kondisi dari peralatan tersebut, apakah berada dalam kondisi yang baik ataukah sebaliknya. Sehingga dengan adanya fenomena ini melalui peralatan yang disebut dengan vibrometer maka akan dapat diketahui detail penyebab terjadinya anomali getaran, tentunya setelah dilakukan analisa…

  • | |

    Pencampuran Bahan Bakar di Burner

    Burner adalah peralatan yang berfungsi untuk membentuk campuran bahan bakar dan udara yang uniform sehingga terjadi proses pembakaran secara efisien. Batubara masuk pada sisi tengah burner dan udara pembakaran pada sisi sekelilingnya. Terbentuk aliran turbulen campuran batubara dan udara pembakaran sehingga terjadi kestabilan pembakaran. Susunan burner didesain dengan konfigurasi secara spesifik untuk memperoleh karakteristik bentuk…

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prove your humanity: 9   +   2   =