Heat Rate Improvement – Metode Lean Six Sigma (Measure)

Setelah pembahasan fase define, fase selanjutnya adalah measure yang merupakan fase untuk mengukur kondisi unjuk kerja pembangkit saat ini. Fase measure terdiri dari beberapa point, namun dalam artikel ini hanya akan dibahas pada point-point terpenting saja yang terdiri dari value stream mapping, benchmark, data collection plant, data analysis, dan capability process.

Value Stream Mapping

Distribusi energi PLTU BerbagiEnergi dibagi menjadi 3 proses yaitu air dan uap; udara dan gas; serta sistem kelistrikan, dimana ketiga bagian tersebut digambarkan dalam sebuah neraca energi seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.

Gambar 1. Neraca energi PLTU BerbagiEnergi

Gambar 1. menunjukkan bahwa sistem utama dari PLTU BerbagiEnergi terdiri dari Boiler, Turbin – Generator dan Kondensor, yang tersusun dari beberapa subsistem dengan indikator kinerja energi seperti pada tabel 1.

Tabel 1. Indikator kinerja energi

Berdasarkan gambar 1. dan tabel  1. dapat diketahui distribusi energi dan indikator kinerja energi pada setiap equipment sehingga dapat memudahkan proses identifikasi area yang saat ini mengalami banyak losses dan sebagai landasan perbaikan untuk dieksekusi pada area pembangkit.

Benchmark Kinerja

Berdasarkan laporan benchmarking Kinerja dan Pemanfaatan Sumber Daya yang diterbitkan oleh pihak ketiga menunjukkan heat rate dari PLTU BerbagiEnergi yang telah dikonversi menjadi intensitas energi (GJ/GJ) mengalami peningkatan konsumsi energi yang cukup signifikan. Sehingga apabila dibandingkan dengan unit pembangkit listrik lainnya yang sejenis maka akan menduduki peringkat yang cukup rendah seperti yang ditunjukkan pada tabel 2.

Tabel 2. Intensitas energi dari perusahaan listrik di dunia.

Berdasarkan tabel 2. menunjukkan PLTU BerbagiEnergi menduduki peringkat ke 13 dari keseluruhan pembangkit yang ada. Apabila divisualisasikan dalam bentuk uji normalitas maka akan menunjukkan keterangan seperti pada gambar 2.

Gambar 3. Benchmark intensitas energi di dunia.

Dari gambar 3. dengan intensitas energi rata-rata sebesar 1,75 maka dapat disimpulkan bahwa PLTU BerbagiEnergi masih berada jauh dari rata-rata yaitu sebesar 3,15 sehingga dibutuhkan berbagai upaya perbaikan agar kinerja energi dapat menjadi lebih baik atau minimalnya di atas rata-rata data intensitas energi dunia.

Data Collection Plan

Rencana pengumpuan data dilakukan untuk menjabarkan proses improvement heat rate agar dapat lebih mudah dalam melakukan analisa dan tindakan perbaikan, seperti yang ditunjukkan pada tabel 3. berikut.

Tabel 3. Data collection plan

Perencaan data yang terdapat pada tabel 3. selanjutnya akan digunakan untuk menghitung losses pada heat rate dari masing-masing stream agar dapat diketahui gap dan losses yang paling tinggi sehingga proses identifikasi dapat diketahui secara detail.

Data Analysis

Berdasarkan data-data yang terdapat pada tabel 3. kemudian dilakukan analisa untuk mengukur intensitas energi dan besaran gap heat rate terhadap kontrak sehingga didapatkan hasil seperti pada tabel 4. berikut.

Tabel 4. Gap heat rate PLTU BerbagiEnergi

Berdasarkan hasil analisa pada tabel 4. menunjukkan bahwa rata-rata gap dari NPHR aktual terhadap kontrak adalah sebesar 52 kcal/kwh, kemudian dilakukan uji normalitas untuk mengetahui apakah data telah terdistribusi secara normal ataukah tidak, agar pengujian selanjutnya yang dilakukan dengan metode statistik dapat dipastikan tingkat validitasnya. Selanjutnya dengan menggunakan software minitab 18, didapatkan uji normalitas gap heat rate seperti pada gambar 4. berikut.

Gambar 4. Uji normalitas gap heat rate.

Berdasarkan gambar 4. diperoleh nilai P-Value sebesar > 0.150, karena nilai P-Value lebih besar dari nilai alpha 0.05, maka dapat disimpulan bahwa H0 diterima dan hal ini berarti bahwa data mengikuti distribusi normal dan dapat dilanjutkan dengan tahapan analisa selanjutnya.

Disamping uji normalitas dilakukan pula analisa control chart untuk mengendalikan proses berdasarkan Rata-rata (X-bar) dan Standar Deviasi (s), sehingga didapatkan tren seperti yang ditunjukkan pada gambar 5.berikut.

Gambar 5. control chart gap heat rate.

Berdasarkan gambar 5. data masih dalam rentang Upper Control Limit (UCL) dan Lower Control Limit (LCL) yang membuktikan bahwa data terkendali secara statistic dimana semua nilai rata-rata dan range dari gap heat rate berada dalam batas-batas pengendalian (control limits).

Capability Process

Dengan nilai kontrak heat rate sebesar 2660 kcal/kwh dan batas toleransi gap NPHR antara aktual terhadap kontrak yang ditetapkan oleh PT. PLN P2B adalah sebesar 1% atau 27 kcal/kwh, serta gap heat rate yang menjadi target adalah 15 kcal/kwh atau dengan nilai heat rate sebesar 2687 kcal/kwh. Selanjutnya dengan menggunakan tools capability process pada minitab 18, didapatkan kurva pada gambar 6. berikut.

Gambar 6. Kurva capability process

Berdasarkan gambar 6. dengan menetapkan USL adalah batas tolerasi dan LSL adalah kontrak yang telah ditetapkan dan target yang akan dicapai oleh PLTU Pelabuhan ratu adalah sebesar 2675 kcal/kwh maka nilai sigma saat ini adalah sebesar 1,0 dan level sigma sebesar 1,28. Nilai level sigma ini cukup jauh untuk mencapai level 6 sigma. Disamping itu nilai Cp = 0,41 (Cp < 1) yang mengindikasikan proses untuk mencapai heat rate sesuai dengan target 2660 kcal/kwh tidak dapat dilakukan karena sebaran data tidak masuk dalam batas spesifikasi yang ditentukan.

@Pelabuhan Ratu

1 thought on “Heat Rate Improvement – Metode Lean Six Sigma (Measure)”

  1. Pingback: Heat Rate Improvement (Analyze) | BerbagiEnergi

Leave a Reply