Heat Rate Improvement – Metode Lean Six Sigma (Define)

Berdasarkan tulisan sebelumnya telah disebutkan bahwa fase define adalah fase untuk menentukan masalah, menetapkan persyaratan-persyaratan pelanggan, mengetahui CTQ (Critical to Quality) dan beberapa hal lain yang akan berhubungan dengan fase-fase selanjutnya. Terdapat banyak point pada fase ini namun penulis hanya menampilkan point-point penting yang cukup mewakili saja.

Voice Of Costumer

Industri pembangkitan listrik di Indonesia memiliki target kinerja yang telah ditentukan oleh PT. PLN seperti halnya EFOR (Equivalent Force Outage Ratio), EAF (Equivalent Availability Factor), Net Plant Heat Rate (NPHR), SdOF (Sudden Outage Frequency) dan indikator-indikator lain sebagai tolak ukur kinerja. Seluruh indikator kinerja inilah yang disebut dengan voice of costumer, karena PT. PLN adalah sebagai customer listrik yang dibangkitkan oleh pembangkit-pembangkit listrik yang ada.

Karena fokus pembahasan dalam tulisan ini adalah tentang heat rate maka dibuat permisalan bahwa PT. PLN menginginkan agar indikator kinerja heat rate pada tahun 2020 dari PLTU BerbagiEnergi adalah sebesar 2660 kcal/kwh sedangkan pencapaian heat rate tahun sebelumnya cukup tinggi dengan rata-rata 2700 kcal/kwh. Sehingga dengan kondisi ini manajemen memerlukan upaya lebih untuk menurunkan heat rate agar sesuai dengan target.

Critical To Quality

Selanjutnya disusun Critical To Quality (CTQ) yang digunakan untuk menguraikan atau mendekomposisi requirement PT. PLN khususnya pada kinerja heat rate sehingga dapat mempermudah proses. CTQ dari dari program ini ditunjukkan pada gambar 1. berikut.

Gambar 1. Critical To Quality

Berdasarkan gambar 1. kebutuhan dari PLTU Berbagi Energi terhadap PT. PLN adalah akan melakukan perbaikan heat rate yang akan dikerjakan dengan optimasi pola operasi, peningkatan keandalan peralatan, dan optimasi energi primer, dengan CTQ berupa optimasi baseline operasi, monitoring paramater operasi, upgrade spesifikasi peralatan dan lain-lain.

Identifikasi Heat Rate Saat Ini

Kinerja energi didefinisikan sebagai perbandingan antara ouput terhadap input dalam suatu proses, dimana secara umum indikator untuk mengukur efisiensi energi adalah heat rate, yang didefinisikan sebagai total panas input yang masuk ke dalam sebuah sistem dibagi dengan total daya yang dibangkitkan oleh sistem tersebut, dengan satuan Btu/kWh; kJ/kWh atau kCal/kWh.

Gambar 2 adalah kondisi heat rate saat ini pada PLTU BerbagiEnergi yang menunjukkan telah terjadi peningkatan nilai heat rate terhadap target (2660 kcal/kwh) akibat adanya losses.

Gambar 2. Breakdown losses energi pada PLTU BerbagiEnergi

Berdasarkan gambar 2. terdapat beberapa losess (warna merah) yang merupakan indikator bahwa PLTU BerbagiEnergi mengalami peningkatan heat rate dengan rata-rata deviasi terhadap baseline sebesar 40 kcal/kwh.

Berdasarkan EPRI TR – 109546 losses pembangkit dibagi menjadi 5 kelompok yaitu : losses yang disebabkan oleh kendali operasi; dari sisi boiler; dari sisi turbin; siklus pembangkit; dan losses yang disebabkan kendali unit. Hal ini bertujuan untuk optimasi proses analisa ketidaksesuaian unjuk kerja aktual terhadap target.

Project Charter

Selanjutnya dibuat sebuah tim untuk mempermudah proses analisa proses analisa dan improvement seperti yang terdapat pada gambar 3. berikut.

Gambar 3. Project Charter

Project charter pada gambar 3 telah memuat detail permasalahan dan taret yang akan dicapai, penanggung jawab dan pelaksana, time line pelaksanaan, risiko dan mitigasinya, estimasi biaya yang diperlukan serta prediksi keuntungan yang akan didapat apabila improvement telah berhasil dilaksanakan.

Stakeholder Manajemen Plant

Disamping project charter yang digunakan untuk internal unit, telah disusun juga stakeholder management plant untuk identifikasi pejabat-pejabat tertentu yang dapat mempengaruhi proses analisa dan improvement dari program ini sepert yang ditunjukkan pada tabel 1.

Tabel 1. Stakeholder Manegement Plan

Stakeholder yang terlibat pada tabel 1. adalah pejabat-pejabat di luar bidang enjinering hingga pejabat di kantor pusat, sehingga harapannya pelaksanaan program peningkatan efisiensi ini dapat berjalan secara baik karena telah didukung oleh berbagai pihak.

SIPOC

SIPOC adalah singkatan dari Supplier (Pemasok), Input (Masukan), Process (Proses), Output (Keluaran) dan Customer (Pelanggan) yang dalam program improvement ini digunakan untuk identifikasi setiap element sebelum proses dimulai, seperti yang ditunjukkan pada gambar 4. berikut.

Gambar 4. SIPOC pengoperasian PLTU BerbagiEnergi

Berdasarkan gambar 4. secara umum pengoperasian unit dimulai dari pemesanan batubara, kemudian input batubara dari coal yard menuju ke boiler, yang selanjutnya dioperasikan oleh tim operasi dan dianalisa oleh tim enjinering dan diteruskan ke PT. PLN.

Analisa SWOT

Dalam perencanaan improvement anlisa SWOT sangat diperlukan untuk evaluasi kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness), peluang opportunities), dan ancaman (threats) sehingga kemungkinan keberhasilan atau kegagalan dapat diprediksi. Analisa SWOT untuk improvement heat rate PLTU BerbagiEnergi adalah sebagi berikut.

Gambar 5. Analisa SWOT improvement heat rate

Gambar 5. di atas menunjukkan bahwa program improvement tara kalor untuk mencapai level six sigma sangat memungkinkan untuk dilakukan pada PLTU BerbagiEnergi.

Selanjutnya pada fase measure akan dilakukan beberapa analisa yang diantaranya adalah benchmark pembangkit, uji normalitas losses heat rate, capability process, dan beberapa pembahasan lain dengan menggunakan tools Minitab untuk mempermudah analisa.

@Pelabuhan Ratu

2 thoughts on “Heat Rate Improvement – Metode Lean Six Sigma (Define)”

  1. Pingback: Metode Lean Six Sigma (Mesure) | BerbagiEnergi

  2. Pingback: Heat Rate Improvement (Analyze) | BerbagiEnergi

Leave a Reply